Misionaris Hati Kudus Propinsi Indonesia

Pastor Piet H. Mogie MSC: Spiritualitas yang Mendasari Kebiaraan dan Imamatku

Sepanjang hidupku dan selama 40 tahun hidup membiaraku dalam Tarekat MSC dan 35 tahun hidup imamatku, hal-hal indah dari buah cinta kasih Allah itu telah saya alami. Itulah yang saya syukuri pada hari-hari yubileum kebiaraan dan imamatku. Tak terbilang saat-saat rahmat dari kasih Allah yang tercurah bagi hidupku.

Saya lahir di Banjarmasin pada 18 Juni 1946 dari orangtua Manuel Rumbayan Mogie dan Victoria Josephine Lolong. Pada saat kelas 4 SD saya mulai berkenalan dengan seorang frater MSC yang saat itu bertugas di kampung saya. Ketika kelas 5 SD saya sudah mencatatkan nama saya untuk calon seminaris. Tapi ketika di kelas 6 saya terjatuh dari ketinggian sekitar 3 meter pada saat senam pada palang horisontal. Tulangku retak. Saya jatuh sakit. Ketika itu ada seorang pastor yang menjenguk saya dan berkata bahwa sakit saya amat parah dan saya akan mati. Tahun berganti tahun kesehatan saya tidak cepat membaik, namun akhirnya saya bisa “sembuh” juga. Saya percaya bahwa itu adalah penyelenggaraan Tuhan terhadap saya. Perjalanan hidup saya memang tidak mulus, tetapi saya merasakan kebaikan Tuhan pada saya.

Sebelum saya mengambil keputusan masuk Novisiat MSC, hati saya sudah lama tertarik untuk menyelami apa itu “hidup membiara” yang juga telah tumbuh jauh lebih awal di masa mudaku. Pada usia sekitar 20 tahun hati saya kian “mencintai kehidupan membiara” terutama pada saat mengikuti kuliah-kuliah filsafat pada sekitar tahun 1966-1968 di Seminari Tinggi Pineleng. Masa itu dapat disebut sebagai masa pematangan motivasi.

Saat-saat saya dibimbing oleh para biarawan MSC di Seminari Tinggi Pineleng itu menggoreskan kesan yang tak terlupakan. Saya digembleng dalam hidup rohani dan doa. Kehidupan akademis di Seminari Pineleng telah membentuk kematangan kepribadian. Namun teladan hidup para MSC yang diartikulasikan dalam tempaan hidup rohani, telah ikut menuntun saya pada keputusan menjadi seorang biarawan yang berpasrah pada rencana Tuhan.

Oleh bimbingan mereka saya menyadari bahwa Allah adalah Bapa yang Mahabaik. Ketika saya mengalami kegagalan dalam hidup sekali pun, tetap saya merasakan Allah itu mahabaik. Di situlah saya merasa sungguh berharga, karena dihargai oleh Allah. Melalui contoh Hati Kudus Yesus yang penuh kasih, saya merasa dipanggil masuk dalam kasih-Nya. Oleh Hati Kudus Yesus inilah saya telah dimampukan berkanjang dalam hidup membiara Tarekat MSC.

Pada 27 Desember 1969 saya mengucapkan profesi pertama di Katedral Bogor. Waktu itu Novisiat MSC di Karanganyar tengah dipugar. Usai studi filsafat dan teologi, saya ditahbiskan di Manado pada 18 Desember 1974. Tugas-tugas pun diberikan kepada saya, mulai dari Ternate, Luwuk Banggai, Poso, Palu, Toli-toli, sampai Jakarta. Tak dapat saya menceritakan seluruh perjalanan hidupku itu. Namun panjangnya jalan hidup ini tak bisa dilepaskan dari spiritualitas yang mendasari seluruh langkah hidup saya.

Saya telah mengambil moto ini: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan ibumu, Aku telah menguduskan engkau… Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu…untuk membangun dan menanam (Yeremia 1:5-10).

Kutipan dari perikop Nabi Yeremia ini telah meneguhkan dan menyemangati saya dalam seluruh perjalanan hidup dan panggilan saya dalam biara MSC hingga mencapai usia pancawindu pada 27 Desember 2009 dan usia imamat yang ke-35 pada 18 Desember 2009.

Misteri cinta Allah ini benar-benar saya alami dalam hidup. Kasih Allah telah menyelamatkan saya dari kematian (ketika saya sakit dan sudah tak berpengharapan hidup lagi) dan membuatku hidup, bahkan mengangkat saya menjadi salah seorang “pelayan” bagi umat-Nya.

Semua ini saya sharing-kan pada momen yubileum ini, bukan sebagai sebuah kotbah atau nasihat religius, melainkan sebuah kesaksian hidup atas cinta kasih Allah bagi diriku. Karena mengalami kasih Allah itu, maka dengan iman saya berani mengatakan bahwa misteri kasih Allah itu lebih dari hanya nasihat-nasihat religius yang dikotbahkan, melainkan sebuah realitas pemberian diri Allah bagi manusia.

Inilah dasar kesadaranku bahwa saya dicintai oleh Allah. Inilah iman yang kuhayati. Bagiku, ini suatu undangan untuk terus-menerus membalas cinta-Nya. Kerinduanku terus mengalir dari dalam lubuk hatiku untuk tinggal dalam cinta Allah.

Sekarang saya tinggal di Rumah Induk MSC Jakarta. Saya berusaha melayani kebutuhan Misa dari umat yang datang meminta saya. Bagi saya, tugas merayakan Ekaristi itu adalah tugas utama saya sebagai seorang imam. Seorang imam harus selalu berusaha dekat dengan Kristus, baik dalam Ekaristi, doa-doa pribadi, maupun dalam tutur kata sehari-hari. Sebagai misionaris Hati Kudus, sungguh saya terpikat pada semangat Kristus.

“Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu? Ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; Jika aku tidur di tempat orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku…”(Mzm 139:7-10).

Allah tetap mencurahkan seluruh perhatian-Nya untuk kesejahteraan kita, hanya karena kita adalah anak-anak kesayangan-Nya. Manusia hendaknya menyadari bahwa seharusnya ia melihat dirinya sebagaimana Allah sendiri melihatnya.

Pada momen yubileum 40 tahun membiaraku, dengan rendah hati saya mengaku tidak menyesal atas pilihan hidupku menjadi seorang biarawan dan imam MSC yang “tertangkap” dalam Hati Kudus Yesus, yang terus-menerus mengalirkan cinta dan belaskasih. Inilah suatu bentuk hidup yang saya jalani dalam komitmen atas “nilai-nilai Injili” untuk menjadi jalan keselamatan bagi sesama. Saya telah mengalami dikasihi oleh Yesus yang membuatku berani berseru: “Dikasihilah Hati Kudus Yesus di seluruh dunia”. Pengalaman cinta akan Allah harus ditransformasikan menjadi suatu tugas perutusan (mission), yakni mengantar kita untuk mewartakan dan membagikan pengalaman kasih kepada orang lain. Caranya dengan berdialog dari hati ke hati, cor ad cor loquitur.

Saya berterima kasih atas segala dukungan yang Anda sekalian berikan kepada saya. Kepada seluruh umat dan Tarekat MSC, sekali lagi saya menyampaikan terima kasih yang berlimpah. Tuhan Yesus memberkati. (Dari Buku Kenangan Cor ad Cor Loquitur. Heart Speaks to Heart. 40 Tahun Membiara Pastor Piet H. Mogie MSC).


Tagged as: , , ,

Beri tanggapan


Komentar harus disetujui moderator terlebih dahulu. Cukup click tombol satu kali saja.

Spam Protection by WP-SpamFree

mugen 2d fighting games

Tentang Bapa Pendiri

Jules Chevalier adalah seorang yang memahami bahwa Allah memanggilnya untuk suatu perutusan: mewartakan Cinta Allah kepada semua orang. Baca Selengkapnya

Spiritualitas Hati

Hidup yang disatukan dengan Hati Kristus adalah lebih dari sekedar devosi – itulah inti dari spiritualitas kami sebagai Misionaris Hati Kudus. Baca selengkapnya

Jadi Misionaris Cinta Allah

Lebih dari 2000 imam dan bruder MSC bekerja dalam berbagai macam perutusan di seluruh dunia. Kami hadir di lebih dari 50 negara. Mau bergabung? Hubungi kami di sini