Insinyur Perikanan Menjadi Insinyur Kemanusiaan
“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,” (Filipi 3:13b).
Kutipan dari Surat kepada orang-orang Filipi di atas menggambarkan perjalanan hidup dari P. Petrus Wastono MSC yang menerima sakramen imamat dari Uskup Purwokerto, mgr. Julianus Sunarka, SJ., pada tanggal 10 Mei 2010, di gereja St. Yosep, Jl. Kaliputih No. 2, Purwokerto. Kutipan tersebut dipilih menjadi motto tahbisan, karena Petrus Wastono telah berusaha meninggalkan masa lalu yang suram dan kini mengarahkan langkahnya ke depan sebagai seorang imam.
Petrus Wastono dilahirkan tanggal 4 Juni 1969 di Kelurahan Sugihwaras, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia dilahirkan dan dibesarkan oleh pasangan Damadi dan Raminah. Raminah, ibunya bekerja sebagai pedagang beras di pasar tradisional dan juga nyambi sebagai petani. Sedangkan Damadi, ayahnya, adalah seorang pekerja keras. Ia adalah seorang petani, tetapi sekaligus ia adalah seorang tukang bangunan, pemborong kecil-kecilan, dan juga bisa menjadi juragan perahu. Ayahnya juga dikenal sebagai seorang rohaniwan dari kelompok kepercayaan.
Wastono adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Oleh karena itu, orang tuanya memberinya nama Wastono, yang berarti: anak laki-laki yang terakhir. Sejak lahir hingga tingkat SLTA Wastono tinggal di Pemalang. Kala itu ia adalah seorang Muslim Abangan. Masa yang indah itu ia isi dengan kegiatan yang bermakna. Sambil sekolah, ia belajar menjadi seorang nelayan penagkap ikan dan belajar memperdalam aliran kepercayaan. Namun demikian, sebagai anak muda, ia juga dapat digolongkan sebagai anak bandel. Hobinya memancing, lari pagi, kadang-kadang berkelahi. Hobi favoritnya saat itu adalah menyabung ayam.
Setelah tamat SLTA, Wastono merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Di perantauan inilah Wastono “ditemukan” oleh Kristus menjadi pengikut-Nya. Tahun 1990 ia dibaptis dalam Gereja Pentekosta di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Semasa menjadi orang Kristen itu ia berkesempatan untuk berjumpa dengan umat Kristen di pedesaan dan para tokoh Kristen dan Katolik. Ia juga aktif baik dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) maupun sebagai penginjil. Pada kesempatan itulah ia mulai tertarik dengan kehidupan pastor.
Setelah menyelesaikan studi S-1 Perikanan, Wastono merantau ke Jakarta. Di Jakarta ia menjalani masa katekumenat selama kurang lebih satu setengah tahun. Masa katekumenat dijalani cukup panjang karena aktivitasnya baik dalam pekerjaan maupun dalam gerakan masyarakat melawan “rezim” Orde Baru, pada tahun 1995-1996. Akhirnya, pada tanggal 23 Desember 1996 Wastono dibaptis di Paroki Santo Silvanus Cilandak, oleh Pastor Thomas Fix, SCJ., dengan nama Petrus.
Pada tahun 1999-2000 Petrus Wastono “nyantrik” di Paroki Pemalang, di bawah bimbingan P. Markus Marlon MSC. Tekadnya untuk bergabung dengan para Misionaris Hati Kudus (MSC) semakin bulat. Oleh sebab itu setelah diterima di Tarekat MSC ia menjalani masa pembinaan di Pranovisiat MSC Pineleng (2000-2001), Novisiat Sanantasela (2001-2002), dan Skolastikat MSC Pineleng (2002-2009). Dalam masa pembinaan di Skolastikat MSC Petrus Wastono menjalani pastoral katekese di SMA Negeri 1 Manado (2003-2004), Week-end Pastoral di Paroki Kristus Raja Kembes, Minahasa (2004-2005), dan Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Yohanes Rasul Kutoarjo di bawah bimbingan P. Jovinus Rahailwarin MSC (2006-2007). Petrus Wastono mengikrarkan kaul kekal dalam Tarekat MSC pada tanggal 18 Oktober 2008 dan ditahbiskan sebagai Diakon di STF-Seminari Pineleng pada tanggal 25 Juni 2009. Masa diaconal (2009-2010) dijalani di Paroki St. Antonius Banjarnegara di bawah bimbingan Pastor Bonnie Abas Pr.
Perjalanan panggilan Petrus Wastono MSC memasuki babak baru dengan diterimanya tahbisan imamat 10 Mei 2010 yang lalu. Dalam homilinya, Uskup Penahbis, Mgr. Julianus Sunarka, SJ., menguraikan pribadi Petrus, pelindung dari P. Wastono MSC. Santo Petrus adalah seorang yang percaya diri, man of power. Karakter Petrus adalah responsif, emosional, aktif. Hal itu nampak dalam teaksi-reaksi Petrus seperti dalam pengakuan Petrus ketika Yesus bertanya, “Siapakah Aku?“ Petrus dengan berani menjawab, “Engkau adalah Mesias,” walaupun jawaban itu berdasarkan pada pengertiannya sendiri tentang mesias, yakni raja yang berkuasa (Mrk 8:27-30). Dalam dialog tentang Roti Hidup, banyak pengikut Yesus yang meninggalkanNya tetapi ketika Ia bertanya kepada keduabelas murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan yang hidup dan kekal,” (Yoh 6: 67-68). Petrus juga mempunyai karakter reaktif, aktif, impulsif. Hal itu nampak dalam reaksinya ketika Yesus berjalan di atas air, Petrus juga ingin berjalan di atas air namun karena kekurangpercayaannya, ia tenggelam (Mat 14: 22-33). Hal itu juga nampak dalam reaksi Petrus menjelang sengsara Yesus (Yoh 13: 36-38), dan ketika ia mendengar kabar tentang kebangkitan (Yoh 20: 3). Petrus, menurut Uskup Sunarka bukanlah seorang nelayan cembre, melainkan seorang pengusaha ikan tingkat menengah ke atas dan ia dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Petrus Wastono yang adalah seorang Insinyur Perikanan dipanggil juga untuk menjadi Insinyur kemanusiaan.
P. Petrus Wastono MSC adalah imam MSC yang kelima dari enam imam MSC yang ditahbiskan pada tahun ini. Tarekat MSC patut bersyukur atas anugerah Tuhan melalui tahbisan-tahbisan imam baru tahun ini. Namun, menurut P. Petrus Wastono, para MSC juga perlu berrefleksi melihat kenyataan amat menurunnya panggilan menjadi MSC, khususnya di wilayah Jawa.
Perayaan Ekaristi tahbisan imamat ini dihadiri oleh sekitar 1.000 orang umat, 60 orang imam, dan sejumlah biarawan-biarawati. Hadir pula para tokoh agama lain seperti Pendeta Gereja Kristen Jawa setempat, Pendeta Gereja Protestan setempat, dan ketua Badan Kerjasama Antar Umat Beragama setempat. Peristiwa pentahbisan P. Petrus Wastono MSC terbilang unik karena ia adalah satu-satunya yang dibaptis katolik di antara saudara-saudaranya yang adalah Muslim. Namun demikian ia bebas dalam mengambil keputusan baik untuk menjadi katolik maupun menjadi seorang imam. Ia pun berharap bahwa ia tidak hanya menjadi seorang imam MSC yang baik, tetapi seorang imam MSC yang bijaksana. ♦ jonast
2 Tanggapan »
Beri tanggapan


Jules Chevalier adalah seorang yang memahami bahwa Allah memanggilnya untuk suatu perutusan: mewartakan Cinta Allah kepada semua orang.
Hidup yang disatukan dengan Hati Kristus adalah lebih dari sekedar devosi – itulah inti dari spiritualitas kami sebagai Misionaris Hati Kudus.
Lebih dari 2000 imam dan bruder MSC bekerja dalam berbagai macam perutusan di seluruh dunia. Kami hadir di lebih dari 50 negara.
Mau bergabung? Hubungi kami di
Entries(RSS)
Profisiat atas rahmat tahbisan imamat Rm. Petrus Wastono, MSC. Semoga menjadi Imam dan Gembala Umat yang Baik. Salamku dari Paroki St. Yohanes rasul-Kutoarjo.
Selamat atas tahbisan imam, Rm. Petrus Wastono, MSC. Semoga dapat menjadi imam dan anggota MSC yang baik.