Bruder-bruder Sawunggalih Mengejar Piala Dunia
Hari-hari ini perhatian kita terpusat pada perhelatan piala dunia yang telah mencapai finalnya. Ada penulis yang menggambarkan sepak bola ini sebagai metafora hidup. “Bagi tim yang menang dan menjadi juara dunia sepak bola, itu pasti merupakan momen puncak pencapaian yang bakal dikenang sepanjang masa. Sebaliknya, bagi tim yang kalah, dalam segi-segi tertentu, kekalahan itu bisa jadi merupakan tragedi, baik pada tingkat personal maupun kolektif tim dan bahkan bangsa-negara. Kemenangan atau kekalahan dalam pertarungan, keberhasilan dan kegagalan, adalah kontras yang lumrah belaka dalam kehidupan, tidak terkecuali dalam Piala Dunia 2010,” (Asyumardi Azra, Kompas 8 Juli 2010).
Pada tanggal 10 Juli 2010, tiga orang bruder MSC menjalani pertandingan yang lain, yang juga adalah pertandingan hidup. Br. Paulus Tri Cahyo Sudaryanto, MSC, Br. Yohanes Sabania, MSC, dan Br. Frederik Fendi Mokili, MSC memperebutkan “Piala Dunia” yang lain. Bukan Piala Jules Rimet yang telah hilang dan kemudian diganti dengan Piala Dunia FIFA, tetapi Piala Dunia dari Yesus Kristus sendiri, yakni Piala Hati Kudus.
Piala Hati Kudus itu hendak diterima oleh Br. Cahyo dan Br. John Sabania dengan mengikrarkan Tri Prasetya untuk seumur hidup, sedangkan Br. Fendi masih bertanding untuk mengejar piala itu dengan memperbaharui kaul-kaulnya. Br. Cahyo dan Br. John mengikrarkan kaul-kaul untuk seumur hidup dan Br. Fendi memperbaharui kaul-kaulnya dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Provinsial MSC Indonesia, P. Johanis Mangkey, MSC, didampingi oleh P. Tarcisius Siswanto, MSC, P. Rolly Untu, MSC, serta para imam MSC lainnya yang hadir, serta disaksikan oleh para bruder MSC yang lain, para biarawan-biarawati yang hadir, serta tamu-tamu undangan baik umat maupun masyarakat sekitar.
Br. Cahyo dan Br. John adalah sisa-sisa dari yang disebut “Bruder-Bruder Sawunggalih.” Sebelum Postulat dan Juniorat Bruder MSC di Pangenrejo, Purworejo selesai dibangun, tercatat dua angkatan bruder-bruder MSC tinggal di Postulat Bruder MSC di bekas bangunan Pastoran Kutoarjo. “Dengan pengikraran kaul seumur hidup, sebutan “bruder-bruder sawunggalih” juga akan menjadi seumur hidup,” demikian kata Provinsial MSC Indonesia, P. Johanis Mangkey MSC.
Perayaan ini menurut P. Mangkey menjadi saat untuk mensyukuri sekaligus mendukung ketekunan dan kesetiaan mereka untuk akhirnya boleh menyerahkan diri kepada Tuhan dan pada karya perutusan-Nya untuk seumur hidup. Tepat sekali bacaan yang mereka pilih:
“…apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya,” (Fil 3: 7-8).
Karena buah dari perjuangan mereka mulai dari Sawunggalih hingga di Pangenrejo mereka boleh mendapat piala, piala dari Kristus sendiri. Mereka telah menerima piala itu dan piala itu akan menjadi piala dunia bagi mereka sebab mereka adalah Misionaris Hati Kudus Yesus yang mempunyai semboyan “Ametur ubique terrarium cor Jesu sacratissimum.” Piala Hati Kudus itu akan dibawa ke mana saja mereka akan di utus entah di dalam negeri entah di luar negeri. Mereka juga sudah commit kalau mau dikirim ke luar negeri mereka siap untuk mengedarkan piala dunia itu. Perolehan “Piala Kristus” itu dapat menjadi dorongan yang sama bagi konfratres yang lain dalam tugas perutusan apa saja yang diberikan. Piala yang sama juga akan dibawa.
Demikian dikatakan bahwa mereka itu ditangkap oleh Kristus. “….Aku mengejarnya kalau-kalau aku dapat menangkapnya karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” (Fil 3: 12). Tahap demi tahap mereka mengenal kristus dan semakin hari dalam tahap-tahap kehidupan dan pembinaan mereka memberi diri ditangkap sepenuhnya oleh Kristus. Itulah yang disaksikan dan disyukuri dalam perayaan kaul kekal dan pembaharuan kaul itu. Mereka tentu berpeluang untuk ditangkap oleh apa saja dan oleh siapa saja. Tapi dari sekian banyak pilhan akhirnya mereka memberi diri untuk ditangkap sepenuhnya oleh Kristus sendiri dengan melupakan apa yang ada di belakang, melupakan hal-hal yang bisa merintangi mereka memperoleh Kristus. “Aku melupakan apa telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus,” (Fil 3: 13-14).
Mereka telah mendapatkan hadiah “Piala Hati Kudus” untuk dilanjutkan. Piala hati kudus itu mereka tangkap pertama-tama dengan mengalami secara pribadi cinta Allah. Mereka telah mengalami itu dalam seluruh kehidupan mereka dan menjadikan itu pengalaman sendiri bahwa Allah mengasihi.
“Seperti Bapa telah mengasihi aku, demikian Aku telah mengasihi kamu,” kata Yesus (Yoh 15: 9). Sabda Yesus itu disertai dengan undangan, “Tinggalah dalam kasihKu.” Bertumbuh, berkembang dalam kasih, menjadi orang yang semakin dekat dengan Tuhan, menjadi semakin dekat dengan cinta kasihnya. Akan tetapi pengalaman kasih itu sekaligus mengandung pengutusan: “Dan aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap,” (Yoh 15: 16). Kasih Allah yang dialami bukan hanya untuk menjadi milik diri sendiri tetapi untuk pergi dan hasilkanlah buah-buah yang lebih banyak dari cinta kasih yang telah dialami itu.
Pengalaman ketiga bruder ini tidak hanya menjadi pengalaman mereka tetapi pengalaman kita semua, murid-murid Kristus. Pertama-tama kita mengalami secara pribadi betapa besar cinta kasih Allah kepada kita. Dan sekaligus kita diundang untuk tinggal dalam kasih itu, berkembang dalam kasih itu, dan kemudian pergi dan berbuah demi keselamatan semakin banyak orang.
Proficiat Br. Cahyo, Br. John dan Br. Fendi. Proficiat atas komitmen anda! Mari bersama mengusahakan agar buah-buah kasih Kristus menetap dan berbuah!
Beri tanggapan


Jules Chevalier adalah seorang yang memahami bahwa Allah memanggilnya untuk suatu perutusan: mewartakan Cinta Allah kepada semua orang.
Hidup yang disatukan dengan Hati Kristus adalah lebih dari sekedar devosi – itulah inti dari spiritualitas kami sebagai Misionaris Hati Kudus.
Lebih dari 2000 imam dan bruder MSC bekerja dalam berbagai macam perutusan di seluruh dunia. Kami hadir di lebih dari 50 negara.
Mau bergabung? Hubungi kami di
Entries(RSS)