Hati Baru

Selamat Jalan “Opa” Uskup Josephus Tethool MSC

Ribuan umat Katolik di Langgur, Maluku Tenggara menghadiri Misa Requiem di Gereja “Katedral” Langgur untuk melepaskan jenazah Uskup Auxiliaris Mgr Joseph Tethool MSC. Tak hanya umat Katolik, tetapi seluruh warga Bumi”Larvul Ngabal itu ikut melayat. “Ini sebuah pemakaman yang agung,” ujar Provinsial MSC Pastor Johanis Mangkey MSC menyimpulkan pengalamannya mengikuti prosesi pemakaman Mgr Joseph Tethool sejak dari Jakarta, Ambon, hingga Langgur.

USKUP JOSEPH TETHOOL yang sehari-hari dipanggil Opa Uskup itu meninggal pada usia 75 tahun di RS Carolus Jakarta pada Senin (18/1) pada pukul 13.15 WIB akibat komplikasi gangguan jantung dan lever. Jenazahnya kemudian disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta atas permintaan Pemimpin Gereja Katolik Indonesia Julius Kardinal Darmaatmadja. Hadir dalam Misa requiem pada malam itu 7 Uskup, Sekretaris Kedutaan Vatikan RD Jozsef Forro, Provinsial MSC, para pastor, suster, dan bruder, umat Katolik Jakarta, serta warga Maluku Tenggara yang berdomisili di Jakarta. Usai Ekaristi, jenazah dibawa ke Gereja Paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran, Jakarta Pusat. Secara bergantian kelompok umat datang berdoa hingga pagi menjelang. Pada Selasa malam diadakan Misa arwah dipimpin Ketua KWI Mgr Martinus Situmorang OFMCap. Tepat pukul 21.00 jenazah dibawa ke Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng untuk diberangkatkan ke Ambon.

Rabu pagi sekitar pukul 06.00 WIT jenazah diterima umat Katolik di Bandara Pattimura Ambon. Saat itu Ambon tengan diguyur hujan lebat. Itu tak mengurangi rasa rindu ribuan umat terhadap Uskup yang lama berkarya di Kota Ambon itu. Jenazah kemudian dibawa ke Gereja Fransiskus Xaverius Katedral Ambon dan diterima Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC. Para pelajar dari persekolahan Katolik yang ada di Kotamadya Ambon membentuk baris panjang di Jalan Pattimura menyambut kedatangan Uskup Tethool. Air mata mereka tak terbendung. Pada pukul 19.00 diadakan Misa Arwah dipimpin Mgr. P.C. Mandagi MSC. Jenazah bermalam di Katedral Ambon menunggu keberangkatan ke Langgur pada esok pagi, Kamis pukul 08.00. Perjalanan Ambon-Langgur butuh waktu tempuh satu jam lima belas menit.

Ketika pesawat Wings Air tiba Langgur , Bumi Larvul Ngabal itu tampak cerah. Ribuan pelayat telah memenuhi Bandara Dumatubun. Saat peti jenazah dikeluarkan dari pesawat, sekelompok ibu-ibu Kei mengenakan pakaian tradisional, duduk di atas tikar dan melantunkan “Tuk Warwar” (lagu yang menceritakan sejarah seseorang) membuat suasana duka sungguh terasa. Jenazah kemudian diterima oleh Mgr Josephus Suwatan MSC (Uskup Manado), Wakil Uskup Pastor Hans Rettob MSC, Bupati Maluku Tenggara Ir. Anderias Rentanubun, Wakil Bupati Drs Yunus Serang, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Ros Far-Far, Caretaker Bupati Maluku Tenggara Barat Drs. A. Renyaan, Komandan Kodim, Komandan Lantamal, Komandan AURI, Ketua Pengadilan Negeri Tual, para tokoh masyarakat dan agama, para biarawan-biarawati, para pelajar, umat, dan masyarakat Maluku Tenggara.

“Selamat datang dan selamat jalan Bapa Uskup. Kami bangga karena engkau dekat di hati kami. Namamu akan kami kenang sepanjang masa,” tutur Pastor Hans Rettob dengan linangan air mata.

Jenazah kemudian diusung oleh para pastor yang bergantian dengan umat dari tiap paroki. Keluar dari halaman bandara, peti jenazah diarak dengan iringan drum band Seminari Yudas Thaddeus dan SMK Siwa Lima menuju Rumah Unio Amboina, tempat tinggal almarhum selama ini sebelum dibawa ke Gereja”“Katedral” Langgur. Udara memang terasa menyengat. Sepanjang jalan, para siswa membentuk barisan untuk dilewati Bapa Uskup Tethool. Umat Katolik memasang bendera kuning (Vatikan) setengah tiang.

Misa diadakan pada pukul 11.30 WIT dipimpin Mgr. Josephus Suwatan MSC. Dalam kotbahnya, Mgr Suwatan sempat membaca isi SMS yang ia terima dari Mgr Tethool pada Pesta Hati Kudus. “Selamat Pesta Hati Kudus. Jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu”. “Mgr Tethool sungguh seseorang biarawan MSC yang mempersembahkan hidupnya untuk Kristus. Ia hidup sederhana dan setia pada panggilannya. Kita semua memang kehilangan, namun kita juga bangga karena Mgr Tethool telah memperlihatkan cintanya kepada kita semua,” kata Mgr Suwatan dalam kotbah. Menurut Provinsial MSC Pastor J. Mangkey, SMS Mgr Tethool itu memperlihatkan, bahwa walau ia seorang uskup, namun ia tetap memperlihatkan semangatnya sebagai seorang biarawan MSC.

Pada pukul 20.00 malam itu, sebuah Misa juga digelar, dipimpin oleh Pastor Yong Ohoitimur MSC yang sekampung dengan Mgr Tethool itu. Dalam kotbahnya pastor asal Desa Ngilngof, Kei Kecil itu, antara lain mengatakan, bahwa walau Uskup Tethool lahir di Merauke, namun ketika bertugas di Maluku ia sangat menghargai nilai-nilai adat setempat. Itu menunjukkan sebuat komitmen pelayanan dan pengabdian kepada umat dan masyarakat di sekitar kehidupannya.

Hari Jumat, 22 Januari, tepat pukul 14.00 WIT digelar Ekaristi pemakaman di Gereja “Katedral” Langgur, yang dipimpin Uskup Diosis Amboina Mgr. P.C. Mandagi MSC didampingi Mgr. Josephus Suwatan MSC, Privinsial MSC P. Mangkey MSC dan 40 pastor, yang berasal dari Keuskupan Jakarta, Keuskupan Manado, dan Keuskupan Sorong. Dalam kotbahnya, Mgr P.C Mandagi tak lupa mengucapkan terima kasih kepada almarhum Mgr Tethool, yang atas salah satu cara, telah bersama-sama melayani dan membangun Keuskupan Amboina. Demikian Uskup Amboina itu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memperhatikan almarhum sejak di Jakarta, Ambon, dan Langgur.

Bupati Maluku Tenggara Ir. Anderias Rentanubun dalam sambutannya juga mengucapkan terima kasih kepada almarhum. “Bapa Uskup Tethool amat merakyat, dekat dengan umat dan siapa saja. Sebagai orang Katolik saya sangat bangga dengan perhatian dan pendampingan rohani beliau kepada kami semua,” tutur Bupati Katolik pertama di Maluku Tenggara itu. Sementara Pastor Johanis Mangkey mengangkat jasa-jasa Mgr. Tethool. “Sebagai uskup, beliau tidak lupa bahwa beliau seorang MSC. Beliau juga pribadi yang sederhana, rendah hati, terbuka, dekat dengan umat, biarawan-biarawati, dengan para imam Projo. Bagi saya itu menunjukkan kualitas-kualitas hati seorang Misionaris Hati Kudus (MSC),” tutur Provinsial MSC itu.

Sebelum dimakamkan, jenazahnya Mgr. Tethool diarak-arakan lagi keliling Desa Langgur, lalu dimakamkan di “Taman Bahagia Mgr. Johanes Aerts MSC” di tepi pantai Langgur. Di tempat inilah pada 14 Juli 1942 silam, Mgr Johanes Aerts MSC bersama para pastor, bruder, dan suster asal Belanda ditembak mati oleh tentara Jepang. Peristiwa itu lalu memberi inspirasi bagi umat Katolik Maluku dalam pelayanan dan pengabdian di ladang Gereja Keuskupan Amboina.

Opa Uskup Tethool dikenal banyak kalangan. Sifat kebapaannya menjadikannya tempat berkeluh kesah, sharing, dan minta petunjuk banyak umat, tak kecuali generasi muda Maluku Tenggara. “Kami, Pemuda Katolik Maluku Tenggara, amat kehilangan beliau,” ujar Hendrik Ohoirat dengan air mata berlinang.

Mgr. Josephus Tethool MSC lahir di Desa Besuk, Paroki Muting, Merauke pada 1 April 1934 dari katekis Anselmus Tethool dan Fransina Maturbongs. Setamat MULO, ia melanjutkan studi di Seminari Kakaskasen Tomohon, Manado. Profesi pertama sebagai MSC pada 22 Agustus 1957, berkaul kekal pada 22 Agustus 1960, ditahbsikan imam pada 20 Desember 1961 di Katedral Manado oleh Mgr Nicolaus Verhoeven MSC, dan ditahbis sebagai Uskup Auxiliaris Keuskupan Amboina pada 26 September 1982 oleh Mgr. Pablo Puente, dengan motto: In Pluribus Unum (Kesatuan dalam Keanekaragaman). Pernah menjabat sebagai Pastor Paroki Tual merangkap pengajar SD dan Seminari Menengah St. Judas Thaddeus serta Rektor SGA di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara pada 1963-1966. Almarhum kemudian menjadi Rektor Seminari St. Yohanes Maria Vianey Saumlaki merangkap Pastor Paroki Saumlaki-Olilit serta mengajar di SGA dan SMA Budi Mulia Saumalaki hingga 1967. Pernah menjabat sebagai Magister Bruderbruder MSC merangkap Pastor Paroki Elat- Wulurat, Kei Besar, Maluku Tenggara; perwakilan Yayasan Persekolahan Katolik Willibrordus dan Rektor Rumah Sakit Katlarat hingga 1969 serta menjadi Pastor Paroki Namar, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara selama setahun. Pada 1974-1974, Tethool menjadi Magister Novisiat MSC merangkap Pastor Paroki di Karang Anyar, Kebumen Jawa Tengah, kemudian kembali menjadi Pastor Paroki Tual merangkap Vikjen Keuskupan Amboina dan Wakil Uskup pertama pulau-puau Kei dan Aru. Tahun 1980-1984 almarhum menjadi Pastor Paroki Maria Bintang Laut Ambon merangkap Vikjen Keuskupan Amboina. Beliau dibebastugaskan pada 1 April 2009 ketika usianya mencapai 75 tahun dan menetap di Langgur (Rumah Unio) atas permintaan para pastor wilayah Kei. Pada 5 Januari 2010 beliau dirawat di RS Carolus hingga ajal menjemputnya pada 18 Januari 2010. Stef Tokan & Joseph Leisubun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

*
mugen 2d fighting games

Photo Gallery

Log in | Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Designed by Gabfire themes mugen 2d fighting games
Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Gabfire