Hati Baru

Mendidik dengan Hati demi Pembentukan Nurani Anak

Sangat kebetulan saya bertemu dengan Sr. Bernarda Inong PBHK. Pertemuan tak terduga itu terjadi di Kantor Kepala Sekolah SMA Bunda Hati Kudus Grogol, Jakarta Barat, sebuah lembaga pendidikan yang dikelola oleh para Suster Puteri Bunda Hati Kudus (PBHK). Dalam pertemuan itu, Sr. Bernarda mengangkat pelbagai kisah tentang hidup dan pelayanannya sebagai seorang misionaris Hati Kudus, yang berkecimpung di dunia pendidikan, baik formal maupun informal. Kisah-kisahnya menarik karena mengandung pesan-pesan historis sekaligus misioner bagi dunia pendidikan.

Ia mengawali kisahnya dengan menyebut Mgr Yoseph Tethool MSC (alm) sebagai teman kelasnya dan Pastor Lambert Somar MSC sebagai adik kelasnya di Seminari Menengah Santo Yudas Thaddeus Langgur, Maluku Tenggara. Sr. Bernarda masih ingat dengan jelas sekaligus mensyukuri dunia dan sistem pendidikan dulu, yang pernah dialaminya ketika masih remaja. Ia ingat pada dunia pendidikan yang sederhana, dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas karena situasi dan kondisi pada waktu itu.

Dengan bangga Suster Bernarda, yang lahir di Langsa, Aceh, pada 9 Agustus 1934, itu menyebut dan mengenang Pastor Jacobus Bus MSC pendiri Seminari Langgur. Pastor Bus MSC di mata Sr. Bernarda, adalah seorang misionaris Hati Kudus yang menghabiskan waktunya sebagai guru dan pendidik di sekolah. Bernarda kecil masih ingat bahwa, pada waktu itu, mereka dididik dengan sangat disiplin tapi dengan jiwa dan semangat hati yang besar dari para misionaris. Pendekatan para pendidik dulu adalah pendekatan hati, sebuah personal approach. Setiap anak didampingi dan diperhatikan secara pribadi menurut kemampuan dan situasi khusus yang dihadapi setiap anak didik.

Menurut Bernarda, disiplin yang ketat harus lahir dari sebuah hati yang peduli dan peka terhadap kebutuhan sekaligus kemampuan anak didik demi perkembangan anak. anak-anak yang kurang mampu justeru mendapat perhatian lebih dan diperlakukan secara khusus pula. Hal yang ditekankan dalam pendidikan para misionaris dahulu adalan pendidikan nilai yang berorientasi pada pembentukan nurani anak. Hati anak-anak harus diisi dengan nilai-nilai kehidupan kemudian diimbangi dengan pengetahuan dan ketrampilan sebagai pendukung.

Dia ingat sebuah adagium tua dalam bahasa Latin, Non scholae sed vitae discimus. Sr. Bernarda mengartikannya atas cara yang sederhana: “Kita belajar untuk hidup (dengan baik dan benar) bukan demi ilmu dan ketrampilan semata untuk memperoleh nafkah dan rezeki hidup.”

Ketika ditanya, apa bedanya antara dunia pendidikan dulu dengan pendidikan dewasa ini, dengan sedih Sr. Bernarda mengatakan ada dua hal yang hilang dalam pendidikan dewasa ini: Pertama, pendidikan dewasa ini kehilangan misinya yang utama, yakni investasi manusia: memanusiakan manusia, artinya pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kehidupan. Kedua, pendidikan dewasa ini kehilangan jiwa dan roh pendidikan itu sendiri, yaitu mendidik dengan hati (personal approach). Ciri pendidikan dewasa ini lebih menekankan soal administrasi, prestasi dan ketrampilan murid (task oriented) yang ujung-ujungnya adalah duit. Pendidikan jadi mahal dan banyak anak miskin tidak mampu mengikuti sistem pendidikan dewasa ini. Pendidikan saat ini hanya untuk orang-orang yang mampu.

Banyak anak dewasa ini, kata Suster Bernarda, menjadi korban sistem pendidikan itu sendiri. Anak-anak dipaksa, baik oleh pihak sekolah untuk mengejar prestasi maupun oleh orang tuanya untuk mendapatkan pelbagai ketrampilan guna bisa bersaing. Pihak sekolah bangga dengan anak murid yang berprestasi dan orangtua bangga dengan anak-anak yang punya pelbagai ketrampilan.

Otak dan ketrampilan anak-anak dewasa ini dipompa sementara hati anak-anak itu kering dan kosong melompong. Pendidikan dewasa ini, dengan kata lain, masih menurut Sr. Bernarda, lebih berorientasi pada kepentingan dan tuntutan pasar global untuk bisa bersaing, ketimbang berorientasi pada investasi manusia demi kualitas kehidupan anak itu sendiri di masa yang akan datang. Anak-anak akhirnya kehilangan orientasi hidup karena tidak berakar pada nilai-nilai kehidupan. Dampaknya adalah tawuran dan narkoba di luar lingkungan sekolah. Tawuran dan narkoba adalah gejala dari sistem pendidikan yang tidak efektif dan efisien. Ke depan, bangsa dan negara kita akan memiliki banyak sekali pejabat dan pemimpin yang ahli, pintar dan terampil tapi tidak punya hati untuk rakyatnya karena suka menipu, bohong dan korupsi serta tidak jujur karena tidak punya nurani.

Saat ini Sr. Bernarda dipercayakan Tarekatnya untuk bekerja di Panti Asuhan “Panti Rini” Purworejo, Jawa Tengah untuk anak-anak miskin dan terlantar bahkan tersingkir dan terbuang. Bagi Sr. Bernarda, Panti Rini adalah sebuah “sekolah alternatif” yang mengutamakan pendidikan hati yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dengan pendekatan “Spiritualitas Hati”. Lewat Panti Rini sebagai pendidikan alternatif, Sr. Bernarda berusaha dekat dengan anak-anak asuhannya. Dengan hatinya, ia menanamkan nilai-nilai, pengetahuan dan ketrampilan untuk bisa hidup layak sebagai manusia. Semoga dari Panti Rini ini lahir para pemimpin bangsa dan negara yang punya hati yang peduli untuk orang-orang kecil, miskin dan terpinggirkan karena mereka sendiri pernah mengalaminya dan bertemu dengan para pembina yang punya hati untuk mereka. Atas cara ini pendidikan nilai ditularkan dan ditawarkan. Para pembaca bisa ikut membantu lewat BCA Purworejo, No. Rek. 2353777700 atas nama Maria Bernarda Inong. ♦ Innocentius Renwarin MSC

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

*
Weboy

Photo Gallery

Log in | Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Designed by Gabfire themes Weboy
Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Gabfire