Hati Baru

Harapan untuk Uskup Ruteng Yang Baru

Tigapuluh empat Uskup se-Indonesia, 600 Imam dan 30 ribu umat menghadiri upacara pentahbisan Uskup Ruteng yang baru, Mgr. Dr. Hubert Leteng, Pr di Lapangan Motang Rua, Kabupaten Manggarai (14/04/2010). Mgr. Hubert, Pr mantan rektor Seminari Tinggi Ritapiret ini ditunjuk oleh tahta suci Vatikan sebagai gembala Keuskupan Ruteng, setelah pendahulunya Mgr. Eduardus Sangsun, SVD dipanggil Tuhan pada 13 Oktober 2008 lalu. Bertindak sebagai Uskup Pentahbis adalah Mgr. Gerulfus C. Pareira, SVD (Uskup Maumere), didampingi Mgr. Vincentius Sensi Patakota, Pr (Uskup Ende) dan Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr (Uskup Sorong). Duta Vatikan, Mgr. Leopold Girelli juga ikut hadir, bersama pejabat daerah setempat, di antaranya Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya.

Semua adalah Saudara

Semua adalah Saudara, Omnes Autem Vos Fratres Estis, menjadi motto Mgr. Hubert. Ia mengatakan di hadapan ribuan umat, pimpinan daerah, para skup dan para Imam, biarawan/i bahwa persaudaraan sejati mesti tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari kehidupan bersama. “Sebagai saudara hendaknya kita menjalin kasih dan persaudaraan, cinta dan pelayanan yang tulus. Sebab, pelayanan pastoral tidak bisa mengandalkan diri sendiri, tetapi melalui kerja sama dalam semangat persaudaraan yang tulus,” kata Mgr. Hubert.

Rm. Max Regus, Pr, seorang Imam Keuskupan Ruteng menanggapi motto Uskup Baru ini sebagai seruan moral. Menurut Max, Mgr Hubert sebagai seorang teolog spiritual, dengan motto ini hendak menawarkan sebuah langkah alternatif dalam menata kehidupan bersama di wilayah Manggarai. Saat ini, wilayah geografis keuskupan Ruteng memang sedang didera oleh aneka macam problem sosial, seperti kemiskinan, rendahnya mutu pendidikkan, kinerja birokrasi yang lemah, dan rusaknya lingkungan hidup, terutama karena masuknya investasi pertambangan. Diharapkan, Mgr. Hubert mampu menjadi gembala yang juga mampu menjawab soal-soal sosial ini.

Menurut Max, apa yang diserukan oleh Uskup melalui motto ini sebuah pesan spiritual, yang menjadi pintu masuk menuju perubahan. “Langkah spiritualitas yang paling radikal itu ada dalam kerelaan meniti jalan pertobatan. Artinya, tanpa pertobatan sosial, politik dan rohani, Gereja Keuskupan Ruteng yang mencakup Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur akan tenggelam dalam kawah krisis sosial, kultural dan politik yang mematikan. Mgr. Hubertus Leteng adalah simbol dari ‘kapital spiritual’ (modal spiritual) yang mungkin semakin dianggap remeh di tengah banyaknya problem sosial politik di wilayah ini,” ujar Max.

Harapan Untuk Suatu Perubahan

Harapan besar memang ditautkan pada Mgr. Hubert di tengah lautan soal sosial kemanusiaan di Keuskupan Ruteng. Max mengatakan bahwa basis spiritualitas, yang diusung Uskup Hubert harus mampu menghasilkan sikap dan pilihan tindakan pastoral yang berpihak pada kemiskinan dan kemelaratan yang menggenangi kehidupan masyarakat Manggarai.
Moto Omnes Vos Fratres Estis (Kamu Semua adalah Saudara) bukanlah sebuah harmonisasi pemikiran semata (dalam gerak pembangunan); bukan juga kecenderungan untuk cari aman, melainkan sebuah gerak bersama menuju kebaikan. “Saudara yang dimaksudkan di sini adalah setiap kehendak yang mengabdi kepada kebaikan dan kebenaran,” katanya.

Hadirnya Mgr. Hubert adalah sebuah harapan baru akan sebuah kegembalaan yang mampu menjawab tantangan sosial politis di wilayah ini. Di tengah lautan soal kemanusiaan, Mgr. Hubert, seorang spiritualis ini, pasti mampu membangun dialog persaudaraan, bagi mereka yang sama-sama memiliki misi kebaikan, kebenaran, dan keadilan demi kehidupan bersama yang lebih baik. M. Azedo

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

*
WordPress Blog

Photo Gallery

Log in | Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Designed by Gabfire themes WordPress Themes
Wp Advanced Newspaper WordPress Themes Gabfire