Seandainya Romo van Lith membaptis 171 orang itu tidak di sendang (kolam air) di antara pohon sono, melainkan di rumah salah satu keluarga yang dibaptis itu, mungkin tidak ada tempat Ziarah Sendangsono seperti sekarang. Tetapi mengapa romo van Lith punya ide untuk melaksanakan baptisan di tempat pemujaan dewi Lantamsari, di bawah pohon sono dan tempat semadi orang-orang Budda? Apakah romo van Lith tidak tahu peraturan liturgi bahwa upacara baptisan harus dilakukan di Gereja, di ruang doa atau tempat lain yang layak (kanon 859)? Mengapa ia tidak membaptis mereka di pusat misi pada waktu itu di Gereja Muntilah saja? Apakah baptisan yang dilakukan di tempat pemujaan orang kafir itu adalah sah? Dan ternyata tindakan romo van Lith itu juga menimbulkan reaksi keras dari kawannya sendiri.
Sejarah membuktikan bahwa apa yang dilakukan romo van Lith adalah bijaksana dan strategis. Tindakan pastoral yang dilakukannya lahir dari spiritualitas inkarkasi dan semangat inkulturasi. Di balik tindakan pastoral yang berani itu terdapat kepribadian yang kuat dan visioner, mencintai umat dan memahami mereka, dalam hal ini orang-orang Jawa dalam kebudayaan mereka.
“Romo van Lith berbeda dengan kawannya Romo Hoevenaars, SJ. Ia menterjemakan doa Bapa Kami dengan citarasa Jawa, daripada persis dalam Kitab Suci. Konflik mereka, tertulis dalam sebuah buku yang merupakan perdebatan visi masing-masing. Romo van Lith yang idealisme misinya bukan sekedar menambah jumlah baptisan, sebagaimana dilakukan kawannya di Mendut, justru dianggap gagal. Misi di Muntilan bahkan akan ditutup. Namun, rencana Tuhan sungguh indah ketika Sarikromo dan teman-temannya dari Kalibawang memohon van Lith mengajarkan iman Katolik. Sampai suatu saat van Lith membaptis 171 orang di Sendang Sono yang kemudian dikenal sebagai tempat awal misi.
Misi Muntilan tidak berakhir. Justru van Lith kian bersemangat melayani orang Jawa. Ia mendidik, menemani, menyelami, memahami, memberi dan menerima dengan belajar, bermain dan hadir bersama orang Jawa. Kedekatan Romo van Lith membuatnya dianggap bapak bagi mereka. Kedekatan itu pula yang membawanya pada posisi membela orang pribumi. Karena itu van Lith dianggap meresahkan pihak Belanda, terlebih ketika duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat) menyampaikan De Politiek Van Nederland Ten Opzichte Van Nederlandsch-Indie yang antara lain mengatakan: “… Kulit putih tidak dapat lagi bertahan di Asia. Sangatlah berbahaya bermain api, untuk berlagak congkak terhadap bangsa Hindia Belanda. Akuilah hak mereka….”
Kata-kata tajam kritikan van Lith tentu mengundang kontroversi, baik di kalangan misionaris maupun pemerintahan. Ketika kemudian van Lith mengalami sakit, itu dianggap sebagai kutukan atas sikap kritisnya. Atas alasan itu pula ia diijinkan pulang ke Belanda pada tahun 1921. Entah untuk berobat atau untuk meminggirkannya dari Tanah Jawa.
Namun cinta van Lith pada Tanah Jawa belum surut. Dari Belanda, di saat memulihkan sakitnya, van Lith menuliskan kritik keras atas pemerintahannya. Ia pun kembali ke Hindia Belanda tahun 1924 demi cintanya kepada orang pribumi. Romo van Lith perlahan namun pasti terus mengubah tanah Jawa yang kering dan gersang menghasilkan buah. Namun apalah, Romo van Lith hanyalah pekerja dan ia pun harus berpulang ketika Sang Empunya tuaian memanggilnya untuk selama-lamanya pada tahun 1926.” (Luluk A Widyawan Pr, Rm Josephus van Lith SJ., http://www.indocell.net/yesaya/id1165.htm)
Apa yang dilakukan romo van Lith itu tidak berbeda dari yang dilakukan oleh St. Paulus di Atena, Yunani. Sementara Paulus menantikan mereka (Silas dan Timotius) di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala… Ia bersoal jawab dengan golongan Epikuros dan Stoa. Mereka menganggap Paulus sedang memberitakan seorang dewa Asing. Lalu mereka membawa Paulus ke sidang Areopagus di Atena.
Lalu Paulus berkatekese kontekstual di Areopagus itu: Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang pujaanmu, aku jumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman bagi mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh para filsufmu… (bdk Kis. 17: 16 – 28).
Pertanyaannya ialah: Bagaimana kita (Gereja sekarang ini) meniru cara kerja pastoral Paulus dan Romo van Lith itu untuk konteks kita masing-masing? Kalau kata “meniru” tidak tepat, kita memakai “paradigma “pastoral mereka dalam karya pastoral kita. Dan tentu saja mereka semua itu menjadi demikian karena meniru Sang Guru mereka. Tanpa bercermin pada mereka itu, kita bisa jatuh menjadi pegawai-pegawai Gereja yang tidak inkarnatoris dan tidak inkulturatif.
Dibutuhkan kreativitas berfikir dan refleksi teologis secara terus menerus untuk melanjutkan karya Yesus membarui Yudaisme, Paulus mengkristenkan Areopagus, Petrus dan teman-teman di Roma mengkristenkan Panteon, dan Gereja Katolik di Indonesia serta di setiap keuskupan sebagai Gereja lokal menggarami masyarakat dengan semangat Injil. Pusat Pemujaan iman kita adalah Tritunggal Mahakudus, Bapa-Putera-Roh Kudus. Di Minahasa ada pemujaan Batu Pinabetengan. Di antara Gunung Sindoro-Sumbing ada pemujaan kepada macan putih di Taroanggro. Pemujaan terhadap Nyai Bagelen juga tetap ramai. Di tambah lagi ada Nyai Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan Pulau Jawa yang masih sangat berpengaruh dalam kepercayaan orang-orang pantai Selatan Jawa Tengah.
Masalah menjadi lebih rumit kalau kita perhatikan bahwa Areopagus dan Pantheon Modern bukan lagi kuil, atau roh-roh penunggu Gunung atau lautan, melainkan gaya hidup, mentalitas, cara berfikir dan apa yang dikejar-kejar manusia zaman kita sebagai yang paling diinginkan (paling penting): uang (kekayaan) kenikmatan (seks dan narkoba) dan kekuasaan (egoisme dan popularitas). Kalau contoh-contoh itu tidak tepat atau kurang banyak, pertanyaan kontrol ini tetap penting direnungkan: pemujaan-pemujaan kafir (tidak kristiani) apa saja yang patut diwaspadai pada zaman kita ini? Dan bagaimana cara menggantinya dengan pemujaan kristiani? Pertama di dalam diri kita sendiri, kemudian kita berusaha menggarami orang-orang lain di sekitar kita.

