Formalitas Hari Kartini

Formalitas Hari Kartini

Saya terkesan dengan ceritera Anthony de Mello tentang guru pembuat api berikut ini.

“Zaman dahulu, ribuan tahun yang lalu, ada seorang guru desa yang mengajarkan membuat api. Orang-orang kampung begitu bahagia karena penemuan api itu membuat hidup menjadi lebih sejahtera: daging buruan dan sayuran menjadi lebih enak dan awet, badan lebih hangat. Namun guru-guru  lain cemburu akan popularitas guru pembuat api dan memprovokasi masyarakat untuk membunuh sang guru pembuat api itu. Dan dia mati. Para murid yang sangat mencintainya selalu mengenangnya. Wajahnya dilukis, patungnya dibuat, ibadat diselenggarakan, kenangannya diulang-ulang, nyanyian diciptakan, kisah dituliskan. Para murid berbuat banyak hal untuk mengekspresikan cintanya kepada sang guru pembuat api. Hanya satu yang mereka lupa, yaitu membuat api itu sendiri.” (Dengan cerita ini sangat jelas Anthony de Mello mau mengkritik Gereja, karena kisahnya mirip kecemburuan orang Farisi terhadap Yesus).

Entah mengapa cerita itu membuat saya memperhatikan cara perayaan Hari Kartini. Yang ditonjolkan dalam perayaan hari Kartini adalah pakaian kebaya Jawa. Mungkin karena foto Raden Ajeng Kartini sebagai keturunan ningrat dikenal selalu dalam foto kebaya itu. Fotonya ditempel dan diarak, pakaiannya ditiru pada hari itu dari anak-anak TK sampai Perguruan Tinggi. Kesannya perayaan hari Kartini itu justeru hanya sebagai rekreasi dan hiburan karena bisa melihat gadis-gadis kecil sudah tampak dengan pakaian kebaya seperti ibu-ibu yang akan kondangan. Hari Kartini identik dengan pakai kebaya. Padahal, kalau membaca tulisan peneliti Litbang Kompas, Nova Christina tentang Ibu Kartini ini, maka beliau adalah sosok wanita Jawa yang luar biasa maju, cerdas, kritis dan mandiri. Sungguh mengagumkan gadis Kartini yang hidup pada tahun 1879 itu sudah memiliki pemikiran seperti berikut ini:

Pada perkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. “…Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu…” (hlm 45).

Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan “tersedia” untuk dimadu pula. Pada bab awal ini, gugatan-gugatan Kartini ditampilkan untuk menggambarkan kekritisannya sebagai perempuan Jawa.

Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan menyajikan surat-surat Kartini yang isinya banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.

Cara merayakan Hari Kartini benar-benar menjadi pesta karikatur yang kehilangan esensinya karena tidak membuat rakyat Indonesia (laki-laki dan perempuan) meniru Kartini membuat api perjuangan emansipasi itu tetap menyala. Memang sekolah sudah terbuka untuk anak laki-lagi dan perempuan. Tetapi poligami, KDRT, pelecehan terhadap pembantu perempuan, gaji rendah bagi pegawai perempuan, perdagangan perempuan jalan terus…!

Dan…. entah mengapa lagi, pikiran saya memperhatikan bukan hanya perayaan Hari Ibu Kartini, melainkan bagaimana cara orang beriman merayakan tokoh-tokoh agamanya. Para tokoh pendiri agama itu dipuja dan dipuji, dipatungkan dan digambarkan, disembah dan dikagumi. Tetapi sekali lagi yang diperagakan adalah potretnya atau gambarnya atau karikaturnya; bukan semangatnya, cara berfikirnya, cara bersikapnya, cara bergaulnya, cara berdoanya, cara hidupnya, keprihatinannya, ketergerakan hati-Nya dan seterusnya.

Kebetulan ide tulisan ini berkembang saat saya melintas mau misa hari Minggu Paskah ke-3 di daerah Airmadidi, Sulawesi Utara, dan saya melihat semacam peragaan atau patung-patungan Yesus Bangkit dari kubur. Halaman luas milik warga umat kristen dipakai untuk membuat semacam kubur kosong, ada salib, ada Alkitab yang mengisahkan Yesus bangkit seperti terdapat dalam Kitab Suci. Umat Kristen Protestan tidak suka dengan patung kandang natal, tetapi kini mereka sendiri berusaha membuat patung kubur kosong.

Jadi rupanya memestakan suatu pesan penting dari Sang Guru desa Pembuat Api, pesan Raden Ajeng Kartini dan Pesan Injil tentang pribadi Yesus, lebih mudah dengan membuat karikaturnya, daripada menghidupkan apa yang dipikirkan dan dilakukan serta diperjuangkan oleh para tokoh itu, supaya kita melanjutkannya.

Kalau hal mengenangkan para tokoh itu bisa disebut ritus atau liturgi, maka liturgi juga cenderung menjadi karikatur yang membosankan. Kalau ritus atau liturgi pengenangan sudah dibuat, maka dianggap sudah selesai. Padahal esensi dari pesan Sang Guru atau Sang Tokoh itu sendiri tidak disampaikan dan tidak lagi menyemangati.  Alfred Firmin Loisy (February 28, 1857–June 1, 1940), Imam Katolik dan teolog dari Perancis yang dikenal liberal sudah pernah memberikan kritik tajam tentang hilangnya esensi dari pesan inti karena orang berhenti pada formalitas lahiriah: Yesus bermaksud mendirikan Kerajaan Allah, tetapi yang muncul Gereja. Jesus proclaimed the kingdom and the church fulfilled this role. For Loisy the Kingdom of Heaven is the essence of Jesus’ message, because everything after Jesus’ death and resurrection leads to this (Loisy 1976, 59).

Sang Guru Pembuat Api sudah mati, tetapi tidak ada warga kampung yang bisa membuat api, hanya berdoa memuja dan mengenangkannya. Ibu Kartini sudah meninggal dengan warisan api perjuangan wanita bagi wanita Jawa dan Indonesia, tetapi para wanita itu malah sibuk memakai kebaya. Dan Yesus berusaha membangun dunia ini supaya mirip dengan Kerajaan Allah di sorga, melalui pengampunan, cintakasih, persaudaraan, pengorbanan diri; Gereja malah sibuk dengan patung-patung dan gambar-gambar-Nya, sampai merasa tidak wajib meniru apa yang dilakukan-Nya itu. *** sujoko

Tags:

No comments yet.

Leave a Reply