Sejarahnya… [2]

Sejarahnya… [2]

Historia est testis temporum, lux veritatis, vita memoria, magistra vitae, nuntia vetustatis. (M. Tullius Cicero, De Oratore 2.36) (Sejarah adalah saksi dari waktu, cahaya kebenaran, kenangan yang hidup, guru kehidupan, dan pembawa pesan masa lampau).

Sesuatu yang sekarang sudah terjadi belum tentu terjadi seperti sekarang, seandainya tidak ada kejadian prasyarat yang menyebabkan semua ini terjadi. Mempelajari beberapa fakta sejarah yang memiliki sebab-akibat dengan realitas sekarang, membuat kita lebih merasakan bagaimana Sang Penyelenggara kehidupan ini mengatur semuanya pada waktunya dengan sangat baik.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkh. 3: 11).

“Tanggal 5 Juni 1806 Raja Louis I Napoleon Bonaparte, seorang katolik, naik tahta menjadi Raja Belanda. Ia terlahir dengan nama Luigi Buonaparte di Ajaccio, Pulau Corsica, sebagai adik dari Joseph Bonaparte, Napoleon I, Raja Perancis. Sebagai raja Belanda ia bernama Lodewijk. Meskipun kakaknya, Raja Perancis menghendaki agar ia menjadi bawahannya yang berkuasan di Belanda, namun Lodewijk berusaha menjadi Raja Belanda sesungguhnya. Bahasa Belanda dengan aksen Perancis-nya jelek, sehingga ketika ia mau memperkenalkan diri sebagai Koning van Holland (Raja Belanda) ia mengucapnya dengan “Konijn van ‘Olland” (Kelinci dari Belanda). Ia menjadi Raja Belanda 5 Juni  1806 – 1 Juli 1810 (4 tahun saja). Naik tahtanya Raja Lodewijk yang beragama katolik ini mematahkan dominasi dan monopoli protestan di Hindia Belanda dan memungkinkan misionaris katolik masuk ke wilayah nusantara.

Romo R. Kurris SJ menulis dalam bukunya “Sejarah Katedral Jakarta” pada halaman 9 antara lain: Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma dengan persetujuan Raja Louis Napoleon dapat mendirikan Prefektur Apostolik untuk Hindia Belanda. Sebagai Prefek Pastolik pertama diangkat Pastor Jakobus Nelissen Pr. Seorang imam diosesan dariKeuskupan Maastricht yang berumur 55 tahun. Ia datang ke Batavia ditemani oleh Pastor Lambertus Prinsen Pr (umur 29 tahun). Mereka berangkat tanggal 22 Juli 1807 dari pantai Texel di Holland Utara dan keadaan perang memaksa mereka menempuh jalan memutar melalui New York, dan baru tiba di Batavia 9 (sembilan bulan) kemudian, yaitu tanggal 4 april 1808. Kedua imam praja dari daerah Limburg (Belanda Selatan) inilah yang bertugas melayani umat katolik di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke saat itu.

Kedatangan Prefek Apostolik J. Nelissen Pr itu hanya terpaut 3 bulan lebih kemudian darikedatangan Gubernur Jenderal Batavia yang baru, tanggal 5 Januari 1808, Herman Willem Daendels  who served as the 36th Governor General of the Dutch East Indies between 1808 and 1811. ( his best-known achievement was the construction of the Great Post Road (Indonesian: Jalan Raya Pos) across northern Java. The road now serves as the main road in the island of Java, called Jalur Pantura. The thousand-kilometre road was completed in only one year, during which thousands of Javanese forced labourers died). Ternyata yang kita sebut jalan Daendels dari Anyer di Jawa Barat – Panarukan di Jawa Timur itu namanya adalah Jalan Raya Pos. Mengapa? Karena jarak antara Surabaya-Batavia yang sebelumnya ditempuh 40 hari bisa disingkat menjadi 7 hari. Ini sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang oleh Daendels kemudian dikelola dalam dinas pos. Untuk mengerjakan jalan itu Daendels dikenal dalam sejarah Indonesia sebagai pemimpin kerja paksa yang mengakibatkan banyak pekerja inlander (pribumi) mati.

Tetapi dari sudut pandang Gereja Katolik, Daendels adalah seorang pendukung politik Etik dan saksi mata Revolusi Perancis yang menekankan liberté, egalité et fraternité, (kebebasan – kesamaan – persaudaraan) sehingga ia memberikan kesempatan yang sama baik kepada misi katolik dan zending protestan untuk berkarya di Hindia Belanda. Apalagi ia diangkat oleh Raja Belanda yang beragama katolik, Lodewijk yang juga memungkinkan Pastor J Nelissen  L Prinsen sampai ke Batavia.

Perode imam-imam praja sebagai misionaris Balanda yang pertama ini berlangsung 1808 – 1859 (selama 51 tahun) dengan jumlah 33 imam praja. Memang begitulah peraturannyadari permulaan bahwa hanya imam-imam sekulir berkewarganegaraan Belanda diberi izin menetap di Hindia Belanda. Imam tarekat atau sekulir yang berkewarganeraan Portugis, Spanyol, Italia atau Jerman tidak diizinkan.

Periode estafet dari imam sekulir kepada terekat Jesuit terjadi ketika tanggal 29 Januari 1859 Pastor Martinus van Elzen SJ dan Johanes baptis Palinckx SJ berangkat dariRotterdam dan tiba di pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia tgl 9 Juli 1859 dijemput oleh Mgr. P. Vrancken Pr. Kini giliran tarekat Jesuit melayani umat katolik seluruh Indonesia. Di antara para Jesuit itu pastor Johanes de Vries SJ sampai mendarat di Pantai Kema tahun 1868 atau 9 tahun setelah para Jesuit mulai berkarya di seluruh perfecturat Hindia Belanda.

Periode estafet berikutnya ialah dari tarekat Jesuit yang melayani seluruh nusantara kepada masuknya tarekat yang melayani umat katolik di luar Pulau Jawa. “Bulan April 1919 Mgr. E Luypen SJ menarik nafas panjang kelegaan setelah daerah Vicariat Apostolik Batavia mendapatkan batas-batas yang wajar, bukan lagi mencakup daerah dari Sabang sampai Merauke”.

Sejak tahun 1905 Ordo Kapusin sudah mengambil alih pelayanan di Pulau Borneo (Kalimantan) dan Sumatra. Tahun 1913 Perfektur Apostolik NTT dan Flores diserahakn kepada SVD. Tahun 1919 Perfektur Apostolik Celebes diserahkan kepada MSC. Tarekat MSC juga melayani daerah Maluku dan Merauke. Waktu serah terima dari Jesuit kepada MSC, di daerah Celebes ada 7 imam Jesuit dan 11.600 umat katolik. Pusat pelayanan pastoral yang terkenal ada di Tomohon, Woloan, Manado dan Makassar. Di Woloan P. Van Velsen SJ (yang tahun 1924 – 1933 menjadi Vicaris Apostolic di Batavia) bekerja di Minahasa selama 24 tahun memimpin sebuah sekolah pendidikan guru (kweekschool) di Woloan yang lulusannya dikirim ke luar daerah Celebes. Tahun 1919 itu di seluruh Minahasa ada 37 sekolah katolik ( 4 di antaranya diasuh oleh suster) dengan jumlah murid 2.300 orang. (R. Kurris SJ, 142).

Kesimpulan: mungkin kalau tidak ada Raja Lodewijk Napoleon Bonaparte, Paus tidak bisa mengutus Pastor Jakobus Nelissen Pr; dan para Jesuit juga belum bisa masuk menggantikan para misionaris praja; dan Jan de Vries SJ juga belum bisa sampai di Manado, sehingga MSC, SVD, Kapusin dan tatekat-tarekat lain juga belum bisa menggantikan Jesuit di wilayah nusantara ini; karena tanpa keputusan-keputusan historis – strategis dari Raja Belanda Lodewijk dan dari Paus Pius VII dan dari para petinggi tarekat itu, maka jalannya sejarah (mungkin) bukan seperti yang kita saksikan sekarang ini.

Sujoko msc

Tags:

No comments yet.

Leave a Reply