Hari Sabtu, 5 Mei 2012 di Biara Savelberg Lotta, Uskup Manado berbicara tentang Keuskupan Manado yang dipimpinnya kepada “Jejaring Pelayanan Kasih” yang dikoordinir oleh PSE P. Benny Salombre. Penjelasan Mgr. Jos sangat runtut dan menempatkankannya dalam konteks-kontes sejarah dan alasan di balik apa yang dilakukan, sehingga memberikan nuansa baru. Berikut ini laporan saya, sebagai usaha mengkalimatkan apa yang Mgr Jos jelaskan secara lisan dan spontan:
“Tahun 1993 itu ternyata adalah peringatan 125 tahun umat katolik di Keuskupan Manado, karena 125 sebelumnya, yaitu tahun 1868 Pastor Johanes de Vries SJ mendarat di Kema. Ia datang di Manado atas izin dari Resident, orang Belanda protestan, untuk hanya berkunjung, tidak boleh tinggal. Dan ia datang atas undangan seorang tentara KNIL Daniel Mandagie yang sudah menjadi katolik di daerah Semarang sana. Kemudian ia pulang ke Manado dan akan membaptis anaknya, tetapi tidak ada pastor di Manado. Maka ia kirim surat ke Batavia untuk dikirim pastor ke Manado supaya membaptis anaknya. Surat Daniel Mandagie itu ditemukan oleh Pastor Jacobus Wagey Pr di desa Tincep, stasi dari Paroki Sonder, ketika Pastor J. Wagey pastor paroki di sana. (Saya tanya kepada P. Wagey siapa yang memberikan: beliau menjawab: ketua stasi waktu itu yang ia dapat dari Pastor di Langowan, lalu surat itu disimpan dan diserahkan kepada P. Wagey.)
Dalam rangka perayaan 125 tahun umat katolik di Manado itu, maka dibuat pelbagai macam kegiatan dan perayaan, di antaranya adalah Musyawarah Pastoral (Muspas) yang kemudian dihasilkan Visi Keuskupan Manado sebagai Persekutuan umat beriman kristiani yang: mandiri, komunikatif, melayani, (dan sekarang ditambah lagi: misioner). (Mgr Jos waktu itu baru tahun ke-3 sebagai Uskup dan baru berusia 53 tahun).
Kemandirian umat Allah di bidang personalia, yang berarti bertambahnya imam-imam diosesan, dan juga kemandirian finansial. Tetapi kemandirian itu bukanlah tertutup dan egosentris, melainkan harus terbuka dan komunikatif. Kita juga ingin menjadi Gereja yang melayani, suatu pelayanan yang membawa pembaharuan-pembaharuan. Dan dalam kerjasama dengan Gereja- gereja lain.
Lalu tahun 2000, tahun yang penuh ketegangan. Di samping Indonesia memang baru mengalami perubahan politik dari zaman orde baru ke zaman reformasi dengan konflik, kerusuhan, pembakaran di mana-mana, banyak orang menjadi korban, diperkosa, lari ke luar negeri dll. Tahun 2000 juga penuh ramalan, dunia akan kiamat, sistem komputer akan kembali ke angka 0 dan akan rusak semua data dan akan timbul kekacauan komputer di seluruh dunia, sistem bursa saham dll.
Tahun 2000 itu juga adalah tahun Yubileum, Gereja dan dunia memasuki milenium baru. Waktu itu dilaksanakan Sidang Agung Waligereja Indonesia (SAGI). (Mungkin Mgr. Jos adalah Ketua KWI waktu itu?- red). Dan dalam kebersamaan dengan bangsa Indonesia, memasuki zaman reformasi, waktu itu muncul istilah: persaudaraan sejati dan komunitas basis insani. Kita menggalang persatuan komunitas basis insani di antara sesama warga dalam RT dan RW, di lingkungandesa. Jadi bukan hanya komunitas basis Gerejani seperti wilayah rohani. (November 1999 pecah kerusuhan Ambon dan para pengungsi memenuhi Bitung dan Manado Tahun 2000 sampai lima tahun sesudahnya kira-kira banyak pengungsi korban kerusuhan Ambon masih ada di Manado. Red).
Maka sekali lagi Keuskupan Manado pada tahun 2000 itu mengadakan Sinode Keuskupan untuk evaluasi. Dievaluasi dan ditegaskan lagi bahwa Gereja Katolik keuskupan Manado ingin mewujudkan Visinya tadi.
Kemandirian Keuskupan ini sangat penting dan bermakna kalau kita mengingat sejarah bahwa tahun 1919 kita baru menjadi Perfektur Apostolik Celebes. Perfektur itu Ketua, jadi diangkat seorang Imam sebagai Ketua untuk seluruh Sulawesi, tetapi daerah perfekturat itu sepenuhnya ada di bawah kekuasaan Bapa Suci di Roma. Baru nanti tahun 1934 atau sekitar itu meningkat menjadi Vicariat apostolik. Vicaris adalah seorang Uskup yang mewakili bapa Suci, semacam Vicjen.
Lantas tahun 1961, Paus Yohanes XXIII menetapkan semua vicariat di Indonesia menjadi Diosis-dioses yang dipimpin oleh seorang Uskup, sebagai kepala Gereja Lokal sama dengan Bapa Suci juga adalah Uskup Roma. Maka tahun 2011 lalu adalah perayaan 50 tahun Hirarki di Indonesia.
Maka sekali lagi Keuskupan Manado membuat Pertemuan Pastoral untuk mawas diri, mengadakan evaluasi, merefleksikan apa yang sudah dilakukan sebagai keuskupan otomon dan hirarki penuh. Maka dibuat analisa SWOT: yaitu Kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam diri Keuskupan Manado; Peluang dan Tantangan yang ada di sekitar atau di luar Gereja yang perlu disikapi. Dengan analisa SWOT itu diproyeksikan RESTRA Keuskupan Manado untuk 5 tahun ke depan (2012 – 2016) dengan 8 (depalan Issue Strategis):
- Bidang Pendidikan dan Pembinaan. Bagaimana caranya meningkatkan kwalitas pendidikan.
- Bidang Hidup Rohani: Dievaluasi hidup rohani Klerus, biarawan-biarawati dan awam.
- Bidang Komunikasi: membangun synergitas, kolegialitas, baku-tahu, kerjasama.
- Bidang Kepemimpinan - Management: Management Gereja seperti sudah diatur dalam Codex bagaimana mengatur Keuskupan dan Paroki, tetapi juga management modern; soal kepemimpinan yang melayani dan strategi kerja.
- Bidang Personalia Keuskupan Manado. Kader-kader Gereja baik klerus maupun awam yang semakin berkwalitas dan semakin banyak. Uskup menyebut awam katolik sekarang sudah ada yang bisa sampai menjadi Bupati, Walikota (uskup lupa menyebut Rektor Unima). Dan imam-imam keuskupan manado juga semakin banyak san semoga semakin berkwalitas.
- Bidang menataan dan pengelolaan Aset-aset serta pengelolaan Keuangan. Dengan susah payah sudah dirumuskan Pedoman atau sistem Keuangan Paroki. Yang semula mendapat tantangan dan resistensi dari para pastor, tetapi kemudian pelan-pelan bisa berjalan.
- Bidang Pengembangan Sosial Ekonomi: PSE di paroki-paroki, credit Union dll.
- Bidang Sarana dan Prasarana: misalnya rumah unio yang masih terlalu kecil dan rumah untuk orang purnakarya.
Sujoko msc

