Novisiat

Novisiat

Pastor Jan van Paassen MSC menulis dalam Buku Sejarah Seminari Pineleng antara lain sbb:

Catatan pribadi Mgr. Panis (Perfect Apostolic Manado) memberikan informasi tentang kemungkinan mendirikan Seminari Tinggi MSC di Jawa Tengah, “Pada tanggal 11 sampai 13 September 1939 diadakan rapat di Purwokerto yang diikuti oleh Mgr. Aerts (Prefect Ambon), Mgr. Panis (Prefect Manado), Mgr. Visser (Prefect Purwokerto) , P. Provinsial MSC, Nicolaus Verhoeven dan P. Vrakking sebagai utusan dari misi MSC di Filipina tentang pendirian novisiat dan skolastikat untuk teologi di suatu tempat di Jawa di wilayah misi Purwokerto.” (Rupanya tempatnya mula-mula di Purbalingga, kemudian pindah ke Karanganyar). Tahun berapa mulai di Purbalingga dan tahun berapa pindah ke Karanganyar? Romo Wignyosoemarta (pernah sebagai Magister tahun 1984-an), pasti tahu karena menulis catatan-catatan Sejarah yang cukup lengkap.

Pastor Jan van Paassen melanjutkan keterangannya:

Saya menduga bahwa rencana itu tidak pernah bisa diwujudkan karena pada tanggal 1 September tahun 1939 tersebut meletuslah perang dunia II di Eropa.

Saya lanjutkan lagi tentang kemungkinan mengatasi persoalan kelanjutan studi filsafat dan teologi bagi para lulusan seminari menengah dengan cara mengirim mereka ke luar negeri. Cara itu ditempuh oleh misi di Jawa Tengah yaitu lulusan dua tahun Filsafat di Yogyakarta, dikirim untuk melanjutkan studi teologinya  ke Belanda, seperti terjadi pada Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (Uskup Pribumi Indonesia pertama) dan dari Tarekat MSC, antara lain Romo Th. Padmowidjojo, A. Putuhardjana, E. Somohardjana, M. Tan Hok Fen, E. Dumatubun, dan terakhir Paschalis Hardjasoemarta, adik kelas saya di Skolatikat Belanda.

Pada tahun 1936 baru ada satu Seminari Tinggi di Indonesia, yaitu di Yogyakarta yang justeru baru pada tahun itu dibuka. Seminari Tinggi di Ledalero, Flores,  berdiri satu tahun kemudian ( 1937), Seminari Tinggi di Pematang Siantar berdisi sesudah Seminari Pineleng, yaitu baru tahun 1956, dan di Malang lebih kemudian lagi, yaitu tahun 1977.

Maka diambil keputusan bahwa tamatan kurikulum Filsafat (Sudah Tingkat Seminari Tinggi) di Kakaskasen (Seminari Pineleng belum ada) yang lulus tahun 1938 akan melanjutkan studi teologi di Yogya. Dan memang terjadi demikian. Empat imam praja Manado yang dihasilkan dari Pendidikan Seminari Tinggi di Yogya itu ialah P. Simon Lengkong pr, P. Wens Lengkong pr, P. Theo Lumanaw pr,  dan P. Jan Moningka pr.

Awal baru yang memberi harapan itu harus berakhir karena perang Jepang tahun 1941-1945. Bukan hanya tidak lagi bisa mengirim lulusan Filsafat ke Seminari Tinggi Teologi di Yogya, melainkan bahkan gedung Seminarinya di Kakaskasen hancur oleh perang itu dan semua muridnya disuruh pulang ke rumah masing-masing tanpa diketahui bagaimana semua keadaan yang sulit ini akan berakhir.

GENERASI PERTAMA YANG IKUT NOVISIAT MSC

Siapa saja gerangan yang terpilih menjadi kelompok generasi pertama Novisiat dan Skolastikat MSC tahun 1957 itu? Waktu itu ada 3 (tiga) angkatan calon imam, yang menjalani tahun novisiat secara bersama-sama. Mereka adalah kelompok yang sudah menyelesaikan 2 tahun Filsafat; mereka yang baru mengikuti 1 (satu) tahun Filsafat, dan mereka yang baru lulus dari Seminari menengah Kakaskasen.

Kelompok pertama itu adalah 6 dari 10 Frater angkat-an masuk tahun 1954, yakni saat dibukanya Seminari Agung Hati Kudus Yesus Pineleng, 15 Agustus 1954. Mereka adalah:

  1. Manuel Padacan
  2. Paskalis Resubun
  3. Johanis Bernardus Talibonso
  4. Sirilus Fidelius Uada
  5. Herman Yunus Pondaag
  6. Maxi Alexander Mailangkey

Kelompok kedua adalah  6 dari 7 Frater yang masuk Seminari Tinggi Pineleng tahun 1955. Mereka sudah mengikuti kuliah satu tahun filsafat dan mengikuti tahun Novisiat sebelum mengikuti program Filsafat tahun yang kedua. Mereka itu adalah:

  1. Alexander Welerubun
  2. Silvester Rarun
  3. Anastasius Ajan (dari Kalimantan)
  4. Joseph Tethool
  5. Hyronimus Bangkut
  6. Thomas Merung

Kelompok ketiga adalah mereka yang baru datang dari Seminari Menengah Kakaskasen dan langsung mengikuti tahun Novisiat, termasuk P. Jacobus Wagey Pr, yang memilih menjadi imam diosesan keuskupan Manado. Mereka itu adalah:

  1. Henricus Palar
  2. Jacobus Wagey
  3. Frits Untu (Ayah dari P. Viany Untu MSC)
  4. Maximilianus Rorimpadey
  5. Willibrordus Duma Paretta.

Jadi, jumlah Novis angkatan pertama sebanyak 17 orang, termasuk satu orang calon imam  diosesan Vikariat Manado. Data ini diberikan langsung oleh P. Jacobus Wagey di Wisma Transito Lotta pada bulan Januari 2008.

Sekitar 3 jam dari Sekarang, Rabu, 25 Juli 2012, akan diadakan Perayaan Ekaristi oleh Provinsial MSC saat itu ( ini) P. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, didampingi oleh Magister Novisiat saat itu (ini) P. Samuel Maranresi MSC, untuk Pengikraran Kaul-kaul Kebiaraan (Profesi Pertama) para Novis angkatan ke-54, yaitu angkatan Novis tahun 2011-2012, sebanyak 15 Orang.

Kemarin Sore sudah diadakan Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Novisiat angkatan 2012-2013, angkatan ke-55, sebanyak 11 Orang Saja: Satu Bruder dan 10 Frater calon imam. Misa dipimpin oleh Provinsial (Rolly Untu), Magister Novisiat (Sam Maranresi), Ekonom Novisiat (Puspu Yuwono), Pastor Paroki Karanganyar (Romo Herman Wuwur), Misionaris Vietnam (Andrew Paparang) dan Sujoko.

Dikirim dari kamar Socius Novisiat Karanganyar, P. Berry Pareira MSC (yang kebetulan ada di Pranovisiat Pineleng sana, karena mengikuti on going formation). Kalau tidak, saya tidak bisa menginap semalam di ruangan yang luas dan indah ini. Memang Tuhan sudah mengatur semuanya dengan amat  baik.

Terimakasih ya, Bapa, Yesus dan Roh Anda Berdua, yaitu Roh Cinta yang keluar dari Bapa dan Putera (Filioque), yaitu; Roh Kudus.

Trimakasih ya Allah Tritunggal yang Mahakudus, Allah yang Mahaesa: Allah yang ma esa-esaan, maleos-leosan, masawang-sawangan. (maaf kalo salah tulis neh, orang jawa katu’).

Tags:

One Response to “Novisiat”

  1. Sujoko July 27, 2012 12:44 pm #

    Tanggapan dari P. Jan van Paassen MSC:

    Romo Sujoko

    Terimakasih tas informasi tentang permulaan STFSP.
    Sjaak Wagey memberi komentar bahwa pada kelompok yang ketiga memang ada

    1. Henricus Palar
    2. Jacobus Wagey
    3. Frits Untu (Ayah dari P. Viany Untu MSC)
    4. Maximilianus Rorimpandey

    tetapi no 5 belum ada.
    5. Willibrordus Duma Paretta.

    Keterangan: selesai “novisiat” atau Tahun Rohani dari pastor Sjaak c.s. , pada tgl. 27 Ag.1957, mereka ubahkan suasana Pineleng dari Novisiat MSC menjadi kembali Philosophicum Pineleng sedangkan untuk Talibonso c.s Pineleng menjadi Theologicum tahun I.Karena ketika itu belum ada frater teolog projo, Teologicum untuk frater biarawan dinamakan “skolastikat”.Baru dua kemudian, Ag.1959, Sjaak c.s. menyelesaikan 2 tahun Filsafat dan mulai dengan Tahun I Teologi.Jadi, pada Ag.1959 mulai Teologicum dari keuskupan Manado-Ambon. .
    Yang perlu dikoreksi dalam keterangan romo Sujoko bahwa Duma Paretta belum masuk Pineleng bersama Henk Palar dan Sjaak Wagey, tetapi baru sesudah dua orang itu c.s. menyelesaikan Novisiat/Tahun Rohani Ag. 1966-Ag.1967. Ketika itu, Ag. 1967, masuk Duma Paretta dan teman projo dari Makassar, yang bernama Barto, bersama dengan 4 calon dari Maluku, ialah Lambert Somar, Engel Yamrewaw, Josef Raharusun dan Titus Rahail sr. Sesudah mereka menyelesaikan dua tahun Filsafat, Ag,. 1959, Wagey mulai dengan Teologi sedangkan teman dari Maluku masuk Novisiat , mula-mula di Pal III tetapi karena Permesta mereka kemudian mencari usw perlindungan di Alma Mater Pineleng, yang sungguh sibuk sekali karena kuliah Philosophicum dan Theologicum berjalan terus.

    Baru pada Maret 1964 saya tiba di Pineleng dan dengar segala ceritra ini dan mulai mengatur perpustakaan yang memang kacau karena waktu permesta Pineleng ditinggalkan beberpa bulan dan mengungsi ke Kembes dan Kakaskasen. sampai Ag. 1958.

    Jan van Paassen msc

Leave a Reply